keterlambatan atau gangguan bicara-bahasa. Seberapa tinggi gangguan bicara ini dialami oleh
anak Indonesia, memang belum ada angka resmi. Namun perlu dicermati hasil Data Surveilans
dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) di 7 RS Pendidikan di Indonesia (Surabaya, Jakarta, Bandung, Palembang, Denpasar, Padang
dan Makasar) pada tahun 2007, yang menunjukkan bahwa gangguan bicara-bahasa merupakan
salah satu gangguan perkembangan yang paling dominan diantara berbagai jenis gangguan
perkembangan anak lainnya. Besarnya insidens gangguan bicara-bahasa di 7 kota besar tersebut
berkisar antara 8-33%, dengan rata-rata berkisar 21%.
Helly Oktaviana, Business Unit Head Nutrition Morinaga Kalbe Nutritionals mengatakan, “Kalbe
Nutritionals dan Morinaga mempunyai komitmen tinggi untuk mendukung setiap kegiatan yang
terkait peningkatan kualitas tumbuh kembang anak Indonesia. Kami ingin mengedukasi
masyarakat tentang pentingnya pertumbuhan anak yang merupakan masa depan bangsa. Dimana
hal ini sejalan dengan tanggung jawab sosial Kalbe yaitu untuk mewujudkan Indonesia sehat
menuju kehidupan yang lebih baik.”
Seperti kita ketahui bersama pertumbuhan dan perkembangan anak memainkan peranan vital
bagi arah hidup seorang anak kedepannya. Guna menghasilkan sebuah generasi yang berkualitas
Platinum maka diperlukan keberadaan anak-anak yang tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kunci untuk menciptakan Anak Generasi Platinum yang multitalenta adalah nutrisi dan stimulasi
yang seimbang yang sesuai dengan tahapan usianya.
“Berbagai kegiatan diseminasi keilmuan tumbuh kembang anak sudah dilaksanakan secara multiperan,
yaitu untuk orangtua, guru dan tenaga medis (dokter, bidan dan perawat). Untuk itulah
kami sangat mendukung adanya kegiatan UKK Tumbuh Kembang IDAI mengadakan Road Show
Pelatihan Deteksi Dini Gangguan Kognitif dan Bahasa untuk para dokter spesialis anak di 10 kota
besar di Indonesia,” lanjut Helly.
Hal tersebut mengemuka pada acara Media Edukasi yang diselenggarakan oleh UKK Tumbuh
Kembang-Pediatri Sosial IDAI bekerja sama dengan Kalbe Nutritionals - Morinaga hari ini. Ketua
UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Eddy Fadlyana, MKes., SpA(K) mengatakan
"Ikatan Dokter Anak Indonesia sangat serius memperhatikan kondisi tersebut, karena data
surveilans kami hanyalah insidens yang nampak di permukaan saja. Dalam kenyataan di
masyarakat, angka gangguan bicara-bahasa di Indonesia tidak menutup kemungkinan lebih tinggi
dari data yang ada pada kami."
Lebih lanjut, Dr.dr.Eddy mengatakan, “Mengingat keterbatasan waktu efektif dalam hal
memanfaatkan periode kritis dalam perkembangan otak anak, maka penanganan anak dengan
gangguan bicara-bahasa lebih ditekankan pada aspek preventif atau pencegahan melalui kegiatan
deteksi dini. Aspek perkembangan bicara-bahasa merupakan salah satua spek perkembangan anak
yang sangat menentukan kecerdasan dan perilaku anak sehingga keterlambatan diagnosis akan
berdampak pada keterlambatan penanganan dan berimbas pada terancamnya kemampuan
kecerdasan dan perilaku anak.”
Dr. Eddy juga menjelaskan, “UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial IDAI telah bekerjasama dengan
Kementerian Kesehatan untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tenaga
kesehatan di Indonesia dalam hal deteksi dini tumbuh kembang anak. Namun demikian,
mengingat banyaknya populasi bayi baru lahir di Indonesia, yang diperkirakan sekitar 3.5 juta bayi
per tahun, maka semakin banyak tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam proses deteksi dini
tumbuh kembang anak. Sehingga, upaya pemerintah (Kemenkes) dan organisasi profesi (IDAI)
akan lebih cepat dirasakan oleh masyarakat bila didukung oleh peran organisasi kemasyarakatan
dan sektor swasta terkait. Untuk itu, kami sangat menyambut baik peran swasta, dalam hal ini
Kalbe Nutritionals yang ikut berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi deteksi dini
tumbuh kembang anak ke masyarakat. Pada tahun 2013-2014, Kalbe Nutritionals bekerjasama
dengan UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial IDAI melaksanakan Road Show Pelatihan Deteksi
Dini Gangguan Kognitif dan Bahasa di 10 kota besar di seluruh Indonesia. Pelatihan ini bertujuan
meningkatkan ketrampilan dokter anak dalam hal mengenal dan mendiagnosis secara dini
gangguan kognitif dan bahasa pada anak.“
Sementara itu Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA (K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang RSUD
Dr.Soetomo/FK Unair Surabaya menjelaskan, “Tanpa kegiatan deteksi dini, maka 70-80%
gangguan perkembangan anak tidak teridentifikasi sehingga kegiatan deteksi dini ini selayaknya
ditujukan untuk semua anak tanpa kecuali, dengan prioritas pada anak atau bayi berisiko tinggi.
Perjalanan tumbuh kembang anak sulit diprediksi hasil akhirnya, bisa saja anak yang lahir normal
akan berkembang menjadi abnormal dan sebaliknya anak yang lahir abnormal bisa berkembang
menjadi normal. Oleh karena itu semua pihak (dokter, orang tua/ pengasuh, dan guru) sebaiknya
peka terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak mereka dan jika timbul kecurigaan maka
harus melakukan deteksi dini. Kita berlomba dengan waktu, mengingat pada usia 2 tahun
perkembangan otak anak sudah mencapai 80% dan pada usia 6 tahun sudah mencapai 95%.”
Dalam hal gangguan bicara-bahasa, keterlambatan identifikasi tidak hanya berdampak pada
keberhasilan penanganannya. Namun lebih jauh lagi, dalam pembentukan struktur otak anak,
kemampuan bicara-bahasa merupakan salah satu komponen terpenting untuk pembentukan
struktur otak untuk kemampuan kognitif dan perilaku. Sehingga, apabila hal ini terganggu maka
dalam jangka panjang dapat mengakibatkan gangguan kecerdasan dan perilaku.
Dalam paparannya, ia juga menjelaskan, “Masalah gangguan bicara mencakup 3 faktor penyebab
terpenting, yaitu kerusakan otak, kerusakan organ penerima (indra) atau gangguan input (kurang
dan/atau salah stimulasi). Dalam praktek sehari-hari, dokter diharapkan mempunyai ketrampilan
untuk dapat menilai dan membedakan ketiga faktor tersebut. Dengan demikian, penanganan anak
dengan gangguan bicara-bahasa dapat segera dilakukan dengan tepat dan orangtua mendapat
bimbingan secara personal sesuai keadaan anaknya.” Menurutnya, dalam pengalaman menangani
anak dengan gangguan bicara-bahasa selama 5-6 tahun terakhir, gangguan input merupakan
faktor paling dominan sebagai penyebab, yaitu masalah kuantitas dan kualitas stimulasi. Hal
tersebut antara lain: kurangnya waktu interaksi verbal aktif antara anak dan orang tua / pengasuh,
kesalahan metode pengenalan bahasa, dan pengaruh media audio visual modern saat ini. “Kami
menghimbau agar orang tua dapat mengatur gaya bahasa, mengatur regulasi pemakaian media
anak serta menerapkan pola asuh yang melekat dengan anak,” tutupnya.







0 comments:
Post a Comment